Anggie Herdiansyah

E24100071

Laskar 4

Ini merupakan cerita inspirasi mengenai pengalaman saya, namun saya sendiri apakah cerita ini layak atau tidak menjadi sebuah inspirasi. Dan cerita ini pun banyak mempengaruhi kehidupan saya pribadi sampai sekarang pun.

Cerita ini berawal ketika saya ditunjuk atau bisa dibilang amanat untuk menjadi ketua dalam suatu kelompok waktu SMP. Saya juga kurang begitu paham menjadi ketua karena waktu itu saya pertama kali menjadi ketua dalam suatu kelompok.

Pertama saya mendengar kata “ketua” itu saya anggap menjadi ketua itu akan menjadi beban yang berat karena tanggung jawabnya itu sangat besar. Memang benar tanggung jawab sebuah ketua dalam suatu kelompok sangat besar di tambah untuk mengatur semua anggotanya kejadian ini pernah saya alami pada pertama kali menjabat menjadi sebuah ketua karena pada saat itu teman saya masih belum terbuka terhadap pemikirannya bahkan kelompok saya pernah mengalami suatu konflik internal di kelompok tersebut untungnya hal itu dapat saya kendalikan secara perlahan-lahan untuk mempersatukan kembali anggota kelompok, namun setelah saya laksanakan lama-kelamaan ternyata tidak sesulit itu karena menjadi ketua itu dapat mengenal lebih dalam tentang karakter seseorang yang satu kelompok. Walaupun banyak yang mengkritik kinerja kelompok kami saya tetap bangga terhadap kinerja kelompok saya sendiri, karena itu merupakan jerih payah saya dan anggota kelompok saya sendiri.

Saya sering mendengar kata guru agama, mentor dan guru pengajian saya bahwa menjadi ketua itu sama dengan Imam (pemimpin) pada saat salat maupun dalam sebuah keluarga apabila Imam itu salah maka para pengikutnya pun salah, namun apabila Imam itu benar maka para pengikutnya pun benar. Itulah hal yang memberikan motivasi kepada saya untuk melaksanakan amanat ini. Karena itulah saya lebih senang menjadi ketua atau pemimpin seperti panji saya panji 1 panji kepemimpinan.

Bukannya saya tergila-gila terhadap jabatan itu namun menjadi sebuah ketua itu merupakan hal yang menyenangkan karena akan lebih akrab dengan karakteristik teman di anggotanya. Ada satu hal yang enaknya menjadi ketua selain hal itu yaitu kerjanya lebih sedikit, karena menurut pengalaman saya menjadi sebuah ketua itu hanya mengeluarkan pendapat dan memberikan contoh-contoh persoalan dalam suatu topik yang di tugaskan, dan yang mengerjakannya adalah para anggotanya sendiri.

Saya teringat kepada mantan presiden RI Bapak Habibie walaupun beliau ini jenius dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang, Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan.

Itulah hal yang saya lakukan dan ternyata benar ucapan beliau ini jadilah diri sendiri dengan itu kita dapat dihargai oleh orang lain. Karena kita lebih dihargai jika kita menjadi diri kita sendiri itu lebih dihargai dibandingkan dengan kita menjadi orang lain maupun kita merubah karakter kita diubah sengaja contohnya saja jika karakter anda itu bersifat “pendiam, ramah, penyabar dan tidak pemarah”, diubah menjadi orang yang “hiperaktif, tidak ramah, tidak sabaran dan pemarah”, orang lain tidak akan menghargainya karena orang lain itu lebih memilih menjadi diri sendiri atau lebih sederhananya bisa dibilang “apa adanya”.

Karena itulah jika kita menjadi seorang ketua atau Imam atau pemimpin kita harus menjadi diri kita sendiri yang apa adanya.

Mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan karena hanya Allah yang Maha Sempurna.

Anggie Herdiansyah

E24100071

Laskar 4

Ini merupakan cerita tokoh yang menjadi inspirasi saya. Beliau ini adalah Bapak mantan presiden RI yakni Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie.
B.J. Habibie, lelaki kelahiran Pare-Pare, 25 Juni 1936. Mantan Presiden RI Ketiga ini atau yang sering dikenal dengan nama “Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang”. Beliau adalah manusia paling multidimensional di Indonesia. Ia manusia cerdas ajaib yang sempat menghadirkan harapan terhadap kemajuan teknologi Indonesia.

Beliau pernah mendapat penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award dari pemerintah Cina. Beliau hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat “Summa Cum laude”. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka “MBB Gmbh Jerman”, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.
Kiprah sepak terjangnya di Indonesia 20 tahun menjabat Menteri Negara Ristek/Kepala BPPT, memimpin 10 perusahaan BUMN Industri Strategis, dipilih MPR menjadi Wakil Presiden RI, dan disumpah oleh Ketua Mahkamah Agung menjadi Presiden RI menggantikan “professor” politiknya Soeharto.

Keinginan Habibie untuk memajukan Indonesia melalui bidang teknologi terlihat dari dimulainya industri pesawat terbang IPTN dengan menjalankan program evolusi empat tahapan alih teknologi yang dipercepat “berawal dari akhir dan berakhir di awal”.

Empat tahapan alih teknologi itu, pertama, memproduksi pesawat terbang berdasarkan lisensi utuh dari industri pesawat terbang lain, hasilnya adalah NC 212 lisensi dari Casa Spanyol. Kedua, memproduksi pesawat terbang secara bersama-sama, hasilnya adalah “Tetuko” CN-235 berkapasitas 30-35 penumpang yang merupakan produksi kerjasama secara equal antara IPTN dengan Casa Spanyol. Ketiga, mengintegrasikan seluruh teknologi dan sistem konstruksi pesawat terbang yang paling mutakhir yang ada di dunia menjadi sesuatu yang sama sekali didesain baru, hasilnya adalah “Gatotkoco” N-250 berkapasitas 50-60 penumpang yang dikembangkan dengan teknologi fly-by-wire dari Airbus. Keempat, memproduksi pesawat terbang berdasarkan hasil riset kembali dari awal, yang diproyeksikan bernama N-2130 berkapasitas 130 penumpang dengan biaya pengembangan diperkirakan sekitar 2 milyar dolar AS.
Sebenarnya Habibie itu ingin tinggal di Indonesia namun beliau ini memiliki satu alasan, istri adalah alasan utama Habibie tinggal di Jerman. Pendamping hidup sekaligus teman suka dan duka yang sudah dikenal sejak anak-anak umur 14 tahun, dr. Hasri Ainun Habibie. Putri keempat H. Mohammad Besari itu disebut terbaring menjalani perawatan di sebuah rumahsakit di Jerman. Habibie ingin untuk selalu harus bisa mendampingi istri, dan harapnya istri juga akan selalu bisa mendampinginya. Menurut tim dokter yang menanganinya, Hasri Ainun belum dibenarkan tinggal atau berkunjung ke daerah tropis karena kelembabannya tinggi. Karena itu, tim dokter merekomendasikan untuk tinggal di Jerman sampai sehat secara tuntas.
Habibie menyebutkan presiden itu bukan segala-galanya. Walau jenius dengan memperoleh royalti atas delapan hak paten hasil temuannya sebagai ilmuwan konstruksi pesawat terbang seperti dari Airbus dan F-16, dia mengaku masih banyak yang jauh lebih baik dari dirinya. Lama bermukim di lingkungan yang sangat menghargai ketokohan dan personality setiap orang, Habibie mendefinisikan jika ingin dihargai maka yang diperhatikan orang lain adalah sikap yang tak berubah terhadap lingkungan.
Menurutnya status, jabatan, dan prestasi bukan alasan untuk berubah terhadap lingkungan. Itulah sebabnya, ketika sudah menjadi RI-1 sikap Habibie terhadap lingkungan tetap tidak berubah. Malah semakin menampakkan watak aslinya, misalnya tidak mau diam dan bergerak sesuka hati padahal sudah ada aturan protokoler yang harus dipatuhi.

Karena itulah dia menjadi inspirasi bagi saya karena sifat inisiatifnya yang ingin memajukan Indonesia dibidang teknologi, karena kesetiaannya terhadap seorang istri yang dicintainya dan rasa sabar yang dia miliki terhadap cercaan yang di dapat dari berbagai pihak yang tidak menyukai dia.